26 December 2022

ON THIS DAY: DAHSYATNYA SAPUAN GELOMBANG TSUNAMI ACEH YANG TAMBATKAN SURLIYADIN BERSINAR DI KANCAH BASKET NASIONAL

Tepat pada hari ini, 26 Desember 2004, sebuah kejadian kelam lukai bumi Pertiwi.

Delapan belas tahun lalu, gelombang tsunami dahsyat menyapu daerah pesisir Aceh selepas gempa berkekuatan M 9,3 yang berpusat di dasar Samudra Hindia mengguncang Serambi Mekkah.

Sontak, Minggu pagi yang seharusnya menghadirkan ketenangan dan keceriaan, seketika berubah menjadi jerit dan tangis.

Tanpa ampun, gelombang setinggi 30 m dengan kecepatan 100 m/detik meluluhlantakkan apapun yang menghadang di hadapannya.

Bangunan, rumah, dan kendaraan rata dengan tanah. Sementara manusia hingga ternak tidak luput dari keganasan tsunami ini.

Berbagai sumber pun mencatat bahwa sebanyak 230.000 orang meregang nyawa karena bencana alam ini.

Bahkan, sejumlah ahli berpendapat bahwa peristiwa tsunami Aceh ini masuk sebagai gempa terbesar ke-5 yang pernah terjadi sepanjang sejarah.

Ternyata, dahsyatnya sapuan gelombang tsunami ini sempat dialami oleh salah seorang penggawa Bali United Basketball, Surliyadin.

Small forward kelahiran Aceh itu menjadi salah satu korban yang beruntung dapat selamat dari bencana dahsyat ini.

Pada saat itu, Surliyadin masih berusia 14 tahun dan duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Bersama ayah, ibu, ketiga kakak kandung, dan kakak iparnya, Itun turut tersapu gelombang tsunami 18 tahun silam.

Demi menyelamatkan hidup, pemilik nomor punggung 52 dalam skuad Tridatu Warriors ini pun sampai harus bergelantungan di atas pagar.

“Waktu itu Itun naik ke atas pagar dan pegangan. Semua orang juga naik ke atas pagar dan saat mereka semua naik, datanglah gelombang pertama. Nabrak pagar itu dan roboh. Itun tenggelam dan semuanya jadi hitam. Tidak tahu apa-apa,” kenang Surliyadin.

Tentu saja situasi pada saat itu begitu memilukan dan mencekam bagi Surliyadin kecil. Terlebih lagi sang kakak pertama, Tina Julia tengah memasuki masa kandungan tujuh bulan.

Berbagai pemandangan mengerikan pun tersaji kala pebasket yang kini berusia 32 tahun itu berjuang mencari tempat aman untuk berlindung.

Hal tersebut pun memperparah kondisi setelah sebelumnya ia harus terpisah dari keluarganya akibat sapuan gelombang tsunami.

“Kami turun dan saat berjalan di air banjir itu ada mayat dan macam-macam. Untuk bertahan hidup, kami ambil makanan dan minuman dalam kemasan yang lewat. Ada galon minuman, diambil untuk dijadikan pelampung. Kami melewati segala macam bentuk mayat,” ujar Surliyadin.

Luka seolah semakin dalam, karena rasa khawatir datang seiring menanti kejelasan kabar keselamatan keluarganya yang lain.

“Kami hanya mendengar kabar burung saja, dari mulut ke mulut, kepastiannya (kabar keselamatan keluarga) tidak ada,” kata Surliyadin.

Senyum sempat mengembang di bibir Surliyadin ketika mengetahui bahwa ayah dan kakak-kakaknya selamat.

Meskipun dalam keadaan memprihatinkan akibat mengalami luka parah dan kelelahan, tetapi pria kelahiran 1990 ini tetap mensyukuri hal tersebut.

Namun, senyum tersebut berubah seketika ketika mengetahui bahwa sang ibunda tercinta masih belum ditemukan sampai hari ini.

“Jadi dari situ, ternyata selamat, hanya luka-luka parah saja rata-rata. Tinggal mencari mama saja. Kami carilah mama sampai berbulan-bulan bisa dibilang, dua bulan. Jadi si kakak selamat, semuanya aman, yang nggak ketemu si mama. Papa ngecek di pagar tempat terakhir itu, memang dapat potongan baju terakhir mereka, termasuk mama. Hanya saja prediksi kami, sudah diambil dan dimasukkan ke kuburan massal. Jadi, hari pertama itu kuburan massalnya di Lambaru dan ketika kami ziarah ke sana,” sambung Surliyadin dengan mata berkaca-kaca.

Selepas pantang menyerah mencari kabar sang ibunda, Surliyadin sekeluarga pun mencoba untuk mengikhlaskan kejadian pilu ini.

Walau terasa menyakitkan, doa terbaik juga terus dikirimkan untuk melepas kepergian almarhumah ke pangkuan Sang Pencipta.

“Kami berpikir (almarhumah) lupa ingatan karena benturan, tetapi memang tidak ada. Kami mencoba ikhlas karena kami sudah berusaha juga mencari. Jadi, kalau ziarah dan berdoa, kami ke kuburan massal,” tutur Surliyadin.

Kejadian pilu dan rasa kehilangan yang dirasakan oleh Surliyadin ini tentu membekas dalam dirinya.

Namun, sebagai seorang manusia, ia sadar bahwa keterpurukan bukanlah tempat untuknya hidup.

Rasa trauma itu perlahan hilang seiring dengan berjalannya waktu.

“Sehabis kejadian tersebut, beberapa bulan itu malas pergi ke pantai. Karena suara pecahan ombak itu sama persis dengan waktu kejadian. Kalau healingnya bisa dibilang tidak ada, yang paling benar ibadah, bersama teman-teman, dan keluarga. Akhirnya sampai satu bulan setengah sudah mulai ke pantai dan sekarang sudah tidak setrauma dulu lagi,” pungkas Surliyadin.

Kini, selepas puluhan tahun berlalu, Surliyadin telah bertransformasi menjadi sosok yang lebih kuat dan tangguh.

Dahsyatnya gelombang tsunami Aceh yang sempat menghanyutkan membuat dirinya tertambat pada satu tekad untuk bangkit bersinar.

Melalui dunia basket, Surliyadin meraih sederet prestasi gemilang, salah satunya dengan mengantarkan Timnas Basket Indonesia 3X3 meraih medali perak di SEA Games Manila 2019 lalu.***

Related News


Tinggalkan Balasan